Mengembangkan Model KISMAN, Sukisman Purtadi memeroleh gelar doktor Pendidikan Kimia FMIPA UNY.

.

Saat kita mengajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inkuiri, apakah siswa sesungguhnya telah siap berinkuiri? Apakah kita tidak menyeret mereka dalam proses yang sesungguhnya mereka tidak mampu melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar utama bagi Sukisman Purtadi untuk meneliti proses pembelajaran yang perlu dibekalkan pada guru kimia dan calon guru kimia agar dapat memiliki kompetensi inkuiri pedagogi (KIP). KIP ini merupakan kemampuan yang tidak hanya menargetkan pengetahuan dan keterampilan inkuiri saja tetapi bagaimana cara membelajarkan pengetahuan dan keterampilan inkuiri kepada siswa-siswanya nanti.

Dengan melandaskan pada teori belajar konstruktivisme, terutama pada konstruktivisme sosial yang menekankan perlunya scaffolding untuk memaksimalkan potensi peserta didik,  Sukisman Purtadi mengembangkan model pembelajaran KISMAN yang difokuskan untuk meningkatkan KIP mahasiswa calon guru kimia. KISMAN adalah model yang merupakan singkatan dari enam fase yaitu Knowing-Initiating-Supporting-Mastering-Assessing-Nurturing.

Di depan Dewan Penguji Sidang Tertutup yang terdiri dari Prof. Drs. Jaslin Ikhsan, M.App.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Mohammad Masykuri, M.Si., Prof. Dr. Dra. Isana Supiah YL, M.Si., Prof. Dr. Dra. Endang Widjajanti Laksono FX, M.Si., Prof. Dr. Drs. Suyanta, M.Si., dan Prof. Dr. Dra. Eli Rohaeti, M.Si. pada tanggal 26 Januari 2026, Sukisman Purtadi menyatakan bahwa novelty penelitian disertasi yang dilakukannya bukan hanya terletak pada nama KISMAN yang sesuai dengan nama penelitinya, namun lebih jauh dari itu ada beberapa sisi novelty yang diungkapkan. Antara lain dalam model ini terlihat jelas pengejawantahan prinsip-prinsip scaffolding dalam langkah pembelajaran yang pasti untuk memberikan petunjuk yang jelas secara teknis pada pengajar mengenai bagaimana men-scaffolding peserta didik tanpa harus terjebak lagi pada proses belajar yang berpusat pada guru lagi. Hal ini belum pernah dilakukan dalam penelitian mengenai scaffolding. Kebaruan lainnya adalah bagaimana integrasi sistem Among dari Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya  mangun karsa, dan tut wuri handayani ke dalam proses pembelajaran berciri konstruktivisme, yang selama ini belum disadari sebagai syarat “bagian budaya pendidikan setempat” yang harus ada pada proses pembelajaran. Sistem among bersama dengan prinsip membangun pengetahuan dalam konstruktivisme, dan scaffolding dalam teori Vygotsky disintesis menjadi fase-fase dalam KISMAN.

Sukisman juga mengungkapkan di depan Dewan Penguji Sidang Promosi Doktor pada Sidang Terbuka tanggal 29 Januari 2026 , yang terdiri dari Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si, Prof. Drs. Jaslin Ikhsan, M.App.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Mohammad Masykuri, M.Si., Prof. Dr. Dra. Isana Supiah YL, M.Si., M.Si., Prof. Dr. Drs. Suyanta, M.Si., dan Prof. Dr. Dra. Eli Rohaeti, M.Si. bahwa fase-fase dalam model KISMAN ini memberikan hasil belajar dominan pada masing-masing komponen KIP. Model KISMAN, ditegaskan oleh Sukisman Purtadi dapat juga diterapkan untuk konten lain terutama yang memiliki hirarki konsep jelas, pengetahuan prosedural, konsep-konsep yang terintegrasi matematika, dan juga keterampilan-keterampilan dasar dalam laboratorium. Model ini masih terbuka untuk dikembangkan pada konteks yang lebih beragam dan diteliti lebih dalam terkait fase-fasenya. Meskipun, Sukisman Purtadi menambahkan bahwa fase-fase ini merupakan fase minimal dalam model yang dikembangkannya, tidak boleh dikurangi